Wednesday, January 7, 2015

Daftar Beasiswa 6 Januari 2015


Daftar Beasiswa, Januari 2015.
Berbagai negara.

Selamat berjuang!

--- begin forwarded message ---
1. Australia Award Scholarship (http://australiaawardsindo.or.id)
3. DIKTI Scholarship
a. Dalam Negeri (http://www.beasiswa.dikti.go.id/dn/)
b. Luar Negeri (http://beasiswa.dikti.go.id/ln/)
4. Turkey Government Scholarship (http://www.turkiyeburslari.gov.tr/index.php/en)
5. General Cultural Scholarship India (http://www.iccrindia.net/gereralscheme.html)
6. USA Government Scholarship
a. (http://www.aminef.or.id/index.php)
b. (http://www.iief.or.id)
7. Netherland Government Scholarship (http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa)
9. Belgium Government Scholarship (http://www.vliruos.be/4273.aspx)
12. Utrecht University Netherland (http://www.uu.nl/university/international-
students/en/financialmatters/grantsandscholarships/Pages/utrechtexcellencescholarships.aspx)
13. Prasetya Mulya Business School Indonesia (http://www.pmbs.ac.id/s2/scholarship.php?lang=ENG)
14. Brunei Darussalam Government Scholarship (http://www.mofat.gov.bn/index.php/announcement)
15. Monbugakusho Scholarship Japan (http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html)
17. PPM School of Management Indonesia (http://ppm-manajemen.ac.id/beasiswa-penuh-s2-mm-reguler/)
19. Sweden Government Scholarship (http://www.studyinsweden.se/Scholarships/)
21. Taiwan Government Scholarship (http://www.studyintaiwan.org/taiwan_scholarships.html)
22. United Kingdom Government SCholarship (http://www.chevening.org/indonesia/)
24. Ancora Foundation Scholarship (http://ancorafoundation.com)
25. Asian Public Intellectuals Fellowship Japan (http://www.api-fellowships.org/body/)
26. AUN/SEED-Net Scholarship (http://www.seed-net.org/index.php)
27. Art Asia Major Scholarship Korea National University of Arts (http://eng.karts.ac.kr:81/karts/board/list.jsp?
c_no=003013002&bt_no=123&page=1&b_category=&b_categoryimg=&searchSelect=&keyword=&divisionSelect=&engNotice=engNotice)
28. Ritsumeikan Asia Pacific University Japan (http://www.apu.ac.jp/home/life/index.php?content_id=30)
30. DIKTIS Overseas Scholarship (http://www.pendis.kemenag.go.id/beasiswaln/)
31. Honjo International Scholarship Foundation Japan (http://hisf.or.jp/english/sch-f/)
33. International HIV & Drug Use Fellowship USA (http://www.iasociety.org/fellowship.aspx)
34. Nitori International Scholarship Foundation Japan (http://www.nitori-shougakuzaidan.com/en/)
35. School of Government and Public Policy Indonesia (http://sgpp.ac.id/pages/financial-conditions)
36. Inpex Scholarship Foundation Japan 

Daftar Beasiswa September 2014

Daftar Beasiswa September 2014.
Dari berbagai negara.
Selamat berjuang!

--- begin forwarded message ---

Barang kali ada sodara,anak,pacar,dll yang minat lanjut sekolah dalam/luar negeri
1. Australia Award Scholarship (http:/australiaawardsindo.or.id)
2. LPDP Scholarship (http://www.beasiswalpdp.org/index.html)
3. DIKTI Scholarship
a. Dalam Negeri (http://www.beasiswa.dikti.go.id/dn/)
b. Luar Negeri (http://beasiswa.dikti.go.id/ln/)
4. Turkey Government Scholarship (http://www.turkiyeburslari.gov.tr/index.php/en)
5. General Cultural Scholarship India (http://www.iccrindia.net/gereralscheme.html)
6. USA Government Scholarship
a. (http://www.aminef.or.id/index.php)
b. (http://www.iief.or.id)
7. Netherland Government Scholarship (http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa)
8. Korean Government Scholarship (http://www.niied.go.kr/eng/contents.do?contentsNo=78&menuNo=349)
9. Belgium Government Scholarship (http://www.vliruos.be/4273.aspx)
10. Israel Government Scholarship (http://www.mfa.gov.il/mfa/abouttheministry/departments/pages/scholarships%20offered%20by%20the%20israeli%20government%20to.aspx)
11. Sciences Po France (http://formation.sciences-po.fr/en/contenu/the-emile-boutmy-scholarship)
12. Utrecht University Netherland (http://www.uu.nl/university/international-
students/en/financialmatters/grantsandscholarships/Pages/utrechtexcellencescholarships.aspx)
13. Prasetya Mulya Business School Indonesia (http://www.pmbs.ac.id/s2/scholarship.php?lang=ENG)
14. Brunei Darussalam Government Scholarship (http://www.mofat.gov.bn/index.php/announcement)
15. Monbugakusho Scholarship Japan (http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html)
16. Paramadina University Master Fellowship Indonesia (https://gradschool.paramadina.ac.id/in/graduate-school-fellowship/paramadina-medco-fellowship-2013.html)
17. PPM School of Management Indonesia (http://ppm-manajemen.ac.id/beasiswa-penuh-s2-mm-reguler/)
18. University of Twente Netherland (http://www.utwente.nl/internationalstudents/sc  

--- end of forwarded message ---

Catatan tautan beasiswa yang lain bisa dilihat sebagai berikut
Seperti kata pepatah, "Keberuntungan adalah keahlian melihat dan memanfaatkan kesempatan".


Bremen, 6 Januari 2015

iscab.saptocondro
Darah Juang!


Mendadak doktoral

Tiga tahun lalu, aku menulis "Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral". Di sana, aku menulis tentang kebosananku karena aku menghabiskan 12,5 tahun hidupku dalam lingkungan pendidikan, baik sebagai pelajar maupun pengajar. Aku studi S1 kelamaan 1 tahun dan aku juga studi S2 atau master dengan waktu lebih dua kali lipat dari waktu seharusnya. Di antara S1 dan S2, aku sempat menjadi pengajar, baik di SMA maupun di universitas. Aku pun berpikir kalau aku harus merasakan bekerja sebagai engineer di suatu industri. Begitulah alasanku untuk tidak lanjut studi doktoral saat itu.

Tiga tahun telah berlalu dan kini aku memakan kata-kataku sendiri. Ini bagai menjilat ludah sendiri yang sudah dibuang. Awal tahun memang cocok buat merenung. Awal 2012, kurenungkan kenapa aku tak mau studi doktoral sedangkan awal 2015 kurenungkan kenapa aku jadi punya peran sebagai PhD student. Renungan tahun ini penting buatku, untuk mempertanyakan apakah peranku ini sungguh bermakna atau tidak. Perlukah peran ini dilanjutkan sampai titik darah penghabisan. Aku harus berani mengkritik diriku sendiri supaya aku bisa berperan sebagai mahasiswa doktoral dengan membawa makna, pertama bagi diriku sendiri dalam perkembangan mentalitas dan karir, kemudian bagi sebanyak-banyaknya orang lain dalam bentuk karya.

Menjadi mahasiswa doktoral di Eropa itu serasa berdiri di atas garis perbatasan. Satu kaki berada di tanah harapan. Di sana, aku percaya bahwa aku akan memberi karya ilmiah yang berguna bagi kemanusiaan. Aku juga percaya bahwa aku membangun karir dan mempersiapkan jalan hidup di tanah itu. Sedangkan kaki lain berdiri gemetaran di atas tanah kekhawatiran. Di tanah ini, selalu ada rasa ingin keluar dari program PhD. Ada rasa tidak sanggup meneruskan studi doktoral ini. Timbullah ide-ide "quit your PhD and get real job", karena pekerjaan lain bisa memiliki upah yang lebih baik.

Akan tetapi kupikir-pikir, dalam pekerjaan apapun, akan ada masa di mana seseorang galau dan bertanya apakah ini pekerjaan yang cocok atau tidak. Begitu pula dalam studi doktoral. Kegalauan ini takkan bisa dihindari. Seorang manusia kritis sepertiku akan selalu mempertanyakan peran sosial: "Di manakah tempatku berada? Untuk apa, aku hidup? Bagaimana aku bisa memberi makna bagi orang lain di dunia ini?"

Seperti kata nasihat meme yang seliweran di internet, "If you feel like quitting, remember why you started", jadilah aku merasa perlu menjawab mengapa aku memulai studi doktoral ini. Aku perlu mengingat apa yang terjadi tahun 2013, ketika aku melamar program ini. Aku harus berani menghadapi masa lalu, kemudian memeluknya erat, mendalami kehangatannya, kemudian melepaskannya untuk menyambut masa depan penuh harapan.

***

Bagaimana ceritanya aku sampai jadi mahasiswa doktoral?

Cerita dimulai tahun 2011, ketika aku kelaparan dan bangkrut. Aku telah lulus studi master tahun 2010. Aku melamar kerja sana-sini, baik lamaran untuk studi doktoral maupun industri. Setelah 8 bulan penantian, aku pun mendapatkan kontrak kerja sebagai konsultan. Perusahaan consulting ini begitu muda dan lincah. Sebetulnya menarik juga bekerja di perusahaan ini. Kemudian aku ditempatkan di perusahaan besar yang memiliki grup litbang di bidang otomotif.

Tahun 2011 hingga 2012, aku merasakan bekerja sebagai test engineer di bidang otomotif di Bayern. Aku sebetulnya tertarik untuk bekerja sebagai software developer, daripada software tester. Tetapi aku merasa pekerjaan ini cukup OK, untuk mengobati kelaparanku dan mengembalikan utang-utangku untuk sementara. Aku menyimpan harapan kalau aku bisa belajar banyak dan kemudian bisa jadi developer setelah sekian waktu. Akan tetapi semakin lama aku bekerja, semakin aku merasa tidak cocok dengan kultur kerja grup ini. Sebagai konsultan, aku tidak memiliki akses berbagai informasi baik di jaringan kantor maupun rapat, namun aku dituntut bekerja seperti pegawai tetap yang punya akses penuh. Akhirnya aku mengalami putus kontrak.

Tahun 2013, aku dijual ke perusahaan bidang luar angkasa. Aku berharap bisa mendesain software dan hardware untuk komponen satelit. Akan tetapi ternyata aku juga tidak cocok dengan kultur kerja perusahaan ini. Selain itu, ilmu mendesain hardware yang kumiliki sudah ketinggalan zaman. Aku juga belum "move on" dari pedihnya putus kontrak di perusahaan otomotif. Selain itu, segenap masalah di Bremen dengan perusahaan telekomunikasi dan urusan visa, membuatku mengalami stress yang mengganggu pekerjaan. Oh, ya, ditambah pula, orang yang menerimaku bekerja, meninggal 3 minggu setelah aku bekerja. Akhirnya aku pun putus kontrak.

Aku pun kembali menjadi ronin. Aku mendapat uang pengangguran (Arbeitslosengeld). Aku kembali melamar kerja sana-sini. Aku merasakan kesulitan yang sama seperti tahun 2011 dalam mencari kerja. Visaku yang belum "permanent residence" atau "unbefristet", menjadi penghalang. Banyak perusahaan menolak orang-orang dengan visa seperti ini. Hanya perusahaan kecil yang biasanya berani menerimaku dengan visa seperti ini.

Aku berpikir untuk kembali ke Indonesia. Aku sempat tidak bisa tidur karena memikirkan apa saja yang harus kusiapkan untuk kembali ke tanah airku. Aku berpikir kalau aku bekerja di Indonesia, aku akan menjadi apa. Lowongan kerja di Indonesia memiliki syarat umur dan aku tiba-tiba merasa tua.

Entah kenapa, ada bisikan dalam jiwaku, "Why not PhD?". Aku tiba-tiba kembali diingatkan bisikan supranatural untuk merasakan panggilan jiwaku untuk berperan dalam lembaga pendidikan. Dengan PhD, aku bisa kembali ke universitas. Bukankah aku masih menyimpan gairah atau passion di bidang penelitian dan pendidikan?

Berhubung aku sudah merasakan rasionalisme Eropa, aku tidak mudah tergoda bisikan gaib. Aku tiba-tiba mengontak kawan lama Elektro ITB yang kini hidup di Norwegia, yaitu Eka Suwartadi. Aku minta janji Skype dengannya. Aku jarang mengobrol dengan orang di Skype. Namun kali ini, aku ingin bertanya tentang pengalamannya dalam proses melamar doktoral, termasuk mengapa dan bagaimana. Dia berkata bahwa bertemu seorang Profesor Norwegia yang sedang berkunjung di ITB di Bandung yang membuka jalan hidupnya untuk studi doktoral di Norwegia.

Aku juga mengontak kawan lama PPI Bremen yang sudah kembali ke Indonesia, yaitu Rio Deswandi. Aku bertanya karena dia adalah Doktor lulusan Uni Bremen yang kuanggap paling tekun dan sungguh-sungguh menjiwai kegiatan doktoralnya. Selain itu, dialah yang paling suka mengundangku makan-makan. Kini aku bertanya mengenai apakah aku cocok untuk PhD. Dia bilang kalau aku memiliki daya juang yang cukup untuk PhD.

Aku pun memulai lamaran doktoral. Selain mencari info lowongan engineer di perusahaan, aku juga membuka-buka website lembaga penelitian dan universitas. Aku mencoba lowongan di Jerman Utara karena aku tidak mau pindahan jarak jauh. Uang tunjangan pengangguran  yang kudapat itu hanya 8 bulan. Jadi dalam 8 bulan aku harus mempersiapkan diri kalau pulang ke Indonesia juga pilihan, jika aku gagal dapat pekerjaan di Jerman.

Ada satu hal yang menjadi bagian hidupku yang sulit terlepas, yaitu online social network. Aku membuka Facebook dan LinkedIn. Aku melihat kawan-kawan bekerja apa saja. Aku harus melihat pilihan apa saja kalau aku bekerja di Indonesia atau di Jerman. Tidak kusangka, aku membuka profil ketua PPI Bremen saat itu, yaitu Rany Miranti. Aku melihat program doktoral yang dikerjakannya di Uni Oldenburg, di Niedersachsen, dekat Bremen. Aku tertarik dengan bidangnya: "renewable energy" (energi terbarukan). Aku pun bertanya mengenai lowongan di grupnya. Rany membantu dalam mengirim tautan.

Dari tautan di Uni Oldenburg, aku mengeklik sana-sini kemudian aku melihat topik "Multi-microphone speech enhancement using brain computer interfaces". Aku merasa topik multi-mikropon sesuai dengan latar belakang S1 di ITB dan "brain-computer interface" (BCI) sesuai dengan latar belakang S2 di Uni Bremen. Aku pun mengirim lamaran. Syukurlah aku diwawancara di Skype. Dalam wawancara, aku banyak ditanya mengenai signal processing. Aku pun merasa kalau aku sudah berkarat. Banyak hal yang tidak kuketahui. Professor tersebut berkata bahwa aku termasuk kandidat yang bagus, namun aku harus menunggu karena dia juga mewawancarai kandidat bagus lainnya.

Tidak berapa lama kemudian, aku mendapat jawaban negatif. Aku agak kecewa tidak bisa diterima program doktoral ini. Namun aku juga lagi sering menanggapi ajakan jalan-jalan, memenuhi panggilan wawancara lainnya di perusahaan. Beberapa minggu kemudian, seorang Professor dari Jade HS Oldenburg mengirimku email. Dia mendapat berkas-berkasku dari Profesor Uni Oldenburg yang menolakku. Ternyata topik doktoral yang kulamar sebelumnya adalah bagian dalam program Signal and Cognition (SigCog), yang didanai kementrian pendidikan dan kebudayaan di Niedersachsen. Professor dari Jade HS ini bertanya apakah aku masih berminat doktoral di bidang BCI. Aku menjawab ya dan siap datang wawancara di kantornya.

Pertama kali aku datang ke kota Oldenburg adalah untuk wawancara doktoral di Jade HS Oldenburg. Sempat tersesat sebentar di Oldenburg karena aku mencari tempat makan siang sebelum wawancara. Aku menjalani wawancara ini dan aku diterima program doktoral, dengan topik "Using brain computer interfaces for active control of assistive technologies", masih di program SigCog yang sama. Setelah itu, aku sibuk urusan administrasi dan berurusan dengan kegiatan doktoral.

***

Kini aku sudah memasuki akhir semester ketiga dari program doktoralku. Dua semester kuhabiskan waktuku dalam beberapa kuliah dan mencari "research question" (rumusan masalah). Sayang sekali, aku masih meraba-raba dalam kegelapan mengenai apa yang harus kulakukan dalam penelitianku. Waktuku tinggal 3 semester lagi. Setelah itu, dana habis. Tahun depan, aku akan dihadapkan kepada keputusan apakah aku meneruskan program PhD ini atau berhenti. Aku masih belum bisa eksperimen karena komisi ethik belum menyetujui proposalku. Jika satu penelitian butuh 1 tahun, sedangkan aku ingin membuat 3 penelitian, mau tidak mau aku harus mencari dana lain untuk tahun keempat. Juga satu semester tambahan untuk mengetik thesis.

Oh, ya, satu penelitian yang kumaksud terdiri dari 1 proposal ethik yang lolos review komisi ethik, rangkaian percobaan/eksperimen dengan beberapa manusia sebagai subjek yang masing-masing terdiri dari beberapa sesi, kemudian melaporkan dalam bentuk publikasi di 1 jurnal ilmiah. Aku membuat thesis kumulatif: 3 paper di jurnal ilmiah ditambah tulisan pembukaan dan penutup.

Berhubung aku belum pernah punya pengalaman PhD, jadi aku banyak tidak tahu apa itu PhD atau apa itu studi doktoral. Aku serasa seorang buta yang berjalan di dalam kegelapan gua hantu. Jadi aku jalani saja masa-masa S3 ini. Suatu hari, aku akan tahu apa itu PhD.
Habisi!

Bagai kucing dalam kotak Schrodinger, sebelum kotak dibuka, aku tak tahu apakah kucing itu akan jadi Doktor atau loncat keluar kabur dari program doktoral.  Setidak-tidaknya kucing itu bakal tahu apa itu PhD. Kenapa jadi ngomong tentang kucing, ya? Bukankah tadi ada Si Buta dari Gua Hantu? Setahuku di Gua Hantu ada ular raksasa yang bernama PhD. Daripada kebanyakan analogi, lebih baik aku kembali ke Dharma Doktoral.
Habisi!


Bremen, 6 Januari 2015

iscab.saptocondro
Darah Juang!

Monday, April 21, 2014

Transfer Kredit Kuliah

Posting kali ini bukanlah tentang kredit perbankan atau kuliah dengan meminjam uang dari bank atau lembaga asuransi. Posting ini tentang sistem kredit dalam dunia perkuliahan. Di Indonesia, kita mengenal Satuan Kredit Semester (SKS, wiki: id,en,de). Di Eropa, ada European Credit Transfer System (ECTS, wiki: en,de). Untuk bisa melakukan pertukaran pelajar antar universitas, dikenal istilah "transfer kredit". Dengan ECTS, universitas di Eropa yang mengikuti perjanjian Bologna (wiki: en,de) dapat mengadakan pertukaran pelajar antar negara di Eropa, contohnya adalah dengan program Erasmus (wiki: en,de).

Indonesia juga mulai merintis bagaimana membuat suatu sistem tranfer kredit kuliah yang bisa membuat kemudahan dalam pertukaran pelajar antar negara. Beberapa universitas di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), tergabung dalam ASEAN University Network (AUN, wiki: en,de). Sejak 2005, sistem transfer kredit antar anggota AUN telah dirintis. Pada tahun 2009, ada ASEAN Credit Transfer System (ACTS). Penjelasan ACTS bisa dibaca dari link dari Universitas Indonesia (UI): ACTS UI.

Selain ACTS, ada pula UCTS untuk negara Asia Pasifik. UCTS itu singkatan dari UMAP Credit Transfer System (wiki: en). Sedangkan UMAP adalah University Mobility in the Asia and Pacific (wiki: en).

Slide dari Pak Gatot Hari Priowirjanto, tahun 2011, berikut menggambarkan perkembangan ECTS, UCTS, dan ACTS. Pada slide, ada visi untuk membuat South East Asia Credit Transfer System (SEA CTS), berdasarkan program transfer kredit SEAMEO RIHED. Profil Pak Gatot HP bisa dilihat di wp gatothp, fb profil gatotpriowirjanto, dan fb page Gatot Hari Priowirjanto.




Menarik juga, kalau semua perguruan tinggi di Indonesia bisa mudah melakukan pertukaran pelajar. Ada sistem kredit semester yang diakui oleh dunia internasional: beban studi (jam/kredit), penilaian (A,B,C, dll), kurikulum, dll. Sampai sekarang Dikti belum terlalu serius mengembangkan ini. Perjalanan masih panjang!


Bremen, 21 April 2014

iscab.saptocondro

Saturday, January 5, 2013

Buku Belajar dan Informasi Beasiswa Luar Negeri PPI Dunia



---------- Forwarded message ----------
From: boy berawi <boy_berawi@yahoo.com>
Date: 2013/1/3





Dear Rekan-rekan yang saya hormati,

 


Kami dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Eropa telah menyusun suatu Buku Panduan Study dan Informasi Beasiswa Luar Negeri khususnya negara-negara di Eropa (seri 1). 



Buku ini berisikan hal-hal yang perlu dipersiapkan bagi mahasiswa baru untuk menempuh study di Eropa dan berbagai macam informasi beasiswa yang ditawarkan oleh Universitas-universitas di Eropa. Buku ini dapat dibaca dan didownload gratis di link sbg:


http://ppiceko.org/berita-ppi/186-buku-belajar-ke-luar-negeri-seri-1-oleh-ppi-dunia.html

 

atau dibaca online pada:

 

http://issuu.com/ppiceko/docs/buku_belajar_ke_luar_negeri_seri1_ppi

 

Buku ini disusun dengan Koordinator program penyusunan buku yakni Herry Dian dari PPI Ceko. Semoga bermanfaat.



Hormat kami,




A. Rohim Boy Berawi

Mantan Koordinator Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Eropa - Amerika 2012



Sunday, February 26, 2012

Menghemat biaya hidup di Jerman

Dari obrolan bersama seorang kawan mengenai biaya hidup, aku tidak percaya kalau pengeluarannya per bulan cuma 200 EUR per bulan. Biaya kosnya 100 EUR per bulan. Jadi untuk makan, mandi, dan bersihin rumah tinggal 100 EUR per bulan.

***

Ini perhitungan biaya makan hemat di Jerman

  • roti lapis untuk 3 hari, seharga 29 s.d. 69 sen. JAdi sebulan habis 2,9 s.d. 6,9 EUR.
  • selai buah untuk seminggu, seharga 50 sen. JAdi sebulan habis 2 EUR.
  • Jus buah untuk 3 hari, seharga 55 sen. JAdi sebulan habis 5,5 EUR
  • Telur untuk 10 hari seharga 39 sen. Jadi sebulan habis 1,17 EUR

Total sebulan habis 15,57 EUR saja untuk makan.

Roti sumber karbohidrat. Selai buah dan jus buah sumber vitamin dan mineral. Telur sumber lemak dan protein.

Kalau masih merasa kurang gizi, cari aja keluarga Indonesia lokal. Siapa tahu ada acara undangan makan-makan. BTW, di universitas sering ada informasi makan gratis yang diselenggarakan oleh organisasi atau acara kultural. Selama di Bremen, aku sudah merasakan makanan Mesir, Iran, Mexico, Venezuela, Kamerun, Kenya, dll dari acara beginian.

***

Perhitungan biaya kebersihan hemat di Jerman

  • sabun batang 29 sen untuk 2 minggu mandi. Sebulan habis 58 sen. Bisa dihemat dengan jarang mandi. Jadinya sabun ini bisa bertahan 6 bulan.
  • shampoo 1 EUR untuk 1-2 minggu mandi. Sebulan habis 4 EUR maksimal. Kalau jarang mandi, shampoo ini bisa bertahan 3 bulan.
  • sabun cuci piring 2 EUR untuk 6 bulan. Sebulan habis 33 sen.
  • sabun cuci baju 6 EUR untuk 12 bulan. Sebulan habis 50 sen. 
  • sabun buat ngelap ini-itu, 3 EUR untuk 12 bulan. Sebulan habis 25 sen.
  • cairan pengepel lantai, 6 EUR untuk 12 bulan. Sebulan habis 50 sen

Total sebulan habis 6,19 EUR.

Sekali lagi, bisa dihemat dengan jarang mandi dan jarang bersihin rumah.

***

Gimana dengan beli baju, sepatu, dan celana?

Lu minta aja sama kawan-kawan yang buang baju, sepatu, celana kalau mau pulang habis ke Indonesia.

***

Gimana dengan meja, kursi, tempat tidur, selimut, lampu, piring, gelas, dan perabotan lainnya?

Lu minta aja sama orang-orang. Sama kaya minta pakaian di atas.

***

Gimana biaya telpon dan internet?

Lu kasih missed-call aja untuk minta ditelpon. Jadi biaya telpon bisa 0 EUR per bulan. Untuk internet, cari tempat tinggal yg internet sharingnya inklusif dalam sewa kos.

***

Gimana kalau mau ngontak keluarga dan teman di Indonesia?

Sebelum ke Jerman, lu harus mendidik mereka untuk kaga gaptek pakai Skype. Kalau gagal mendidik mereka, jangan ngontak mereka dan lebih baik ngobrol sama jeruk kalau kesepian.

***

Gimana dengan air, listrik, dan gas?

Carilah tempat kos yang inklusif air, listrik, dan gas dengan biaya flatrate/Pauschal. Kalau kaga inklusif, sebaiknya mandi dibatasi dengan 1 baskom air per hari. Cara mandi adalah dengan kain waslap (Waschlappen) dan sabun batang. Cara mandi ini biasa dilakukan di rumah sakit ketika diopname tapi juga dilakukan oleh banyak orang tua di Jerman dan Belanda. Listrik dan gas dihemat dengan cara tapa pati geni di rumah.  Belajar di kampus aja, jadi rumah hanya untuk tempat tidur yang kaga perlu lampu.

***

Gimana dengan asuransi kesehatan?

Kalau umur di bawah 30 tahun, asuransi kesehatan privat itu 33 EUR per bulan. Kalau cuma butuh asuransi untuk dapat visa, ikut asuransi di masa-masa sekitar perpanjangan visa. Setelah dapat visa, asuransi dibatalkan. Kalau kamu perempuan yang punya resiko hamil jangan coba-coba hidup di Jerman tanpa asuransi kesehatan.

***

OK, sekarang aku percaya bahwa memang bisa hidup di Jerman dengan biaya hidup di bawah 200 EUR per bulan. Bahkan di bawah 100 EUR per bulan kalau kaga perlu bayar kos.

Untuk biaya hidup lebih nyaman dan realistis di Jerman, bisa baca

  • Biaya hidupku di Bremen tahun 2011, di sini
  • Biaya hidup seorang dukun di Bremen, di sini
  • Biaya hidup Steve Tirta di Darmstadt, di sini
  • Biaya hidup Bayu Van Adam tahun 2011, di sini

 

Nürnberg, 26 Februari 2012

iscab.saptocondro

 

Tuesday, January 3, 2012

Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral?

Di Indonesia, dikenal ada 3 tingkatan sarjana:

  • S1: sarjana
  • S2: magister, master,
  • S3: Doktor

Semua tingkatan harus ditempuh dengan studi. Sewaktu S1 di Bandung, Indonesia, aku harus mengikuti kuliah beserta ujian dan tugas-tugasnya, praktikum di laboratorium, kerja praktek di perusahaan, dan diakhiri dengan tugas akhir. Kebetulan aku kuliah di tempat yang benar mendidik orang menjadi Sarjana Teknik Elektro. Kebetulan lagi aku betul-betul membuat hardware ketika kerja praktek di industri, bukan sekedar merangkum manual alat seperti beberapa mahasiswa lain. Aku juga merasakan tugas akhir yang berurusan dengan bidangku, yaitu Control Engineering (Teknik Kendali). Dalam tugas akhir ini, aku meneliti secara mandiri. Konsultasi dengan dosen, aku cuma dapat teori umum, bukan praksis memakai alat. Teman diskusi tidak ada. Aku juga menurunkan rumus sendiri untuk setengah dari pekerjaanku dalam tugas akhir ini. Selain itu, aku tidak bisa menulis tugas akhir dengan baik dan benar, terutama bagian menulis referensi. Oleh karena itu, tugas akhirku ini tak kuunggah di internet. Akhirnya aku lulus. Kuhitung lama studiku, 5 tahun. Cum Laude tak kudapat melainkan kemelut (quote: Dhita Yudistira, seniroku dan mantan Ketua HME ITB).

 

Setelah S1, kuberencana lanjut studi S2. Kumimpikan di Jerman. Ternyata tidak mulus perjalanannya. Untuk mengejar impian ini, aku ikut kursus bahasa Jerman di Goethe Institute Bandung. Aku juga merasakan bekerja menjadi pengajar di SMA swasta di Bandung selama kira-kira 2 tahun. Kemudian menjadi pengajar di perguruan tinggi swasta di Semarang. Di Semarang, aku mengajar 1 tahun. Ternyata aku merasakan 3 tahun bekerja di lembaga pendidikan.

 

Suatu kebetulan terjadi. Lamaran beasiswaku kepada DAAD Jakarta dilirik. Aku dipanggil untuk wawancara. Aku datang dan diwawancara oleh 1 Profesor Jerman, 2 Doktor Indonesia lulusan Jerman, dan 1 orang pegawai DAAD. Profesor Jerman bertanya mengenai tugas akhir S1. Doktor Indonesia bertanya mengenai apa manfaat buat negara Indonesia kalau aku studi dengan beasiswa ini. Pegawai DAAD bertanya persiapan apa saja yang telah kulakukan untuk studi ke Jerman. Sebulan kemudian, di kala harus berteduh karena hujan deras, telponku berdering. Penelpon bertanya padaku, apakah aku mau menerima beasiswa DAAD. Aku jawab, ya.

 

Setelah mengikuti permainan tarik-ulur layang-layang dan ping pong di tempat kerjaku di Semarang :-), aku bisa lanjut studi S2 di Jerman. Dalam mengambil master di bidang otomasi di Bremen, aku harus mengikuti kuliah beserta ujiannya, praktikum di laboratorium, mengerjakan penelitian kecil (Project) dan penelitian besar (Thesis). Kecil dan besar berbeda hanya dalam jumlah kredit. Keduanya sama-sama sulit buatku. Penelitiannya dilakukan secara mandiri. Dan kemandirian ini membutuhkan disiplin tinggi dalam manajemen waktu dan memilah-milah paper. Ini yang berat buatku. Aku sudah lelah oleh ujian di Bremen. Ujiannya cuma boleh diulang satu atau dua kali jika tidak lulus (tergantung mata kuliah). Itu aturan Jerman. Kalau mengulang ujian dan tak lulus, itu artinya drop out. Dalam lelah ini, aku salah memilih topik karena pengen cepat lulus. Kemudian aku harus mengulang topik dari awal lagi. Ingin cepat, ternyata aku malah salah jalan.  Mengulang topiknya pun tanpa perlindungan beasiswa DAAD. Aku bekerja jadi buruh di gudang dan pabrik untuk membiayai sisa studiku. Akhirnya aku lulus master. Kuhitung aku studi 4,5 tahun hanya untuk gelar master.

***

Oh, ya, sesuai judul topik ini. Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral?

Aku merenung, aku sudah menghabiskan 5 tahun S1, 3 tahun bekerja di lembaga pendidikan, 4,5 tahun S2. Totalnya, aku mendedikasikan hidupku 12,5 tahun untuk dunia pendidikan. Studi S3 bakal menambah masa hidupku di dunia ini lagi.

Aku sudah penat dengan kuliah dan dengan dunia pendidikan. Walau dalam diriku masih tersisa keinginan untuk mengajar. Tapi aku butuh suatu rehat untuk kesehatan jiwaku.

 

Studi S3 atau doktoral juga berarti suatu penelitian mandiri. Aku sudah dua kali gagal dalam penelitian mandiri. Sewaktu S1 di Bandung, kerja praktek dan tugas akhir memperpanjang lama studiku. Sewaktu S2 di Bremen, project dan thesis juga membuat kelulusanku lambat. Aku butuh suatu istirahat dari dunia penelitian di lembaga pendidikan tinggi.

 

Oh, ya, status dosenku juga hilang ketika aku sedang menjalani studi master di Bremen. Aku mendapat email di hari ulang tahunku, tepat ketika aku bangun pagi hari dan membuka komputer. Untuk menambah rasa ini, sorenya, cintaku kandas via telpon. Di saat aku stress karena salah memilih topik project di Bremen, aku mendapat dua hadiah ulang tahun ini. Hal ini sempat membuatku mengobrol dengan jeruk.

 

Tiga dosenku di Bandung berkata tentang studi doktoral atau S3. Studi ini hanya cocok untuk dosen dan mereka yang hidup di dunia penelitian, kata Pak Eniman Syamsudin. Beliau mengajarku Sistem Kendali, suatu mata kuliah yang membentuk identitasku sebagai seorang Control Engineer. Selain itu, Beliau mendidikku menjadi orang jujur dan berintegritas. Dosen kedua, Pak Armein Langi menulis tentang beda S1, S2, dan S3. Menurutnya pendidikan S3 itu untuk menghasilkan peneliti. Pendidikan ini hanya cocok untuk orang yang punya keinginan menghasilkan dan MENULIS pengetahuan baru. Beliau ini dulu memberi kuliah Pengolahan Sinyal Digital yang sempat kuhadiri sekali. Terakhir, Pak Budi Rahardjo membuatku merenung tentang perlu-tidaknya mengambil studi S3. Studi S3 hanya membuang waktu kalau tidak punya "passion" atau gairah dalam penelitian. Selain itu, Beliau juga berkata kalau ingin S3, pilihlah tempat yang memiliki promotor (pembimbing), infrastruktur dan lingkungan yang mendukung. Infrastruktur itu maksudnya fasilitas (alat, laboratorium, perpustakaan, akses jurnal, dll). Lingkungan maksudnya teman diskusi dan "network". Penelitian berkembang dalam jejaring peneliti. Komunitas peneliti biasanya mengadakan konferensi atau seminar serta menerbitkan jurnal penelitian.

 

Aku menyadari bahwa teman diskusi itu penting dalam dunia penelitian. Dulu di Bandung, aku bisa dapat hal-hal berguna dalam penelitian ketika aku berdiskusi dengan kawan-kawan, terutama Eka Suwartadi. Di Semarang, tiba-tiba aku sulit bergerak karena tiadanya rekan diskusi. Di Bremen, ada beberapa mahasiswa doktoral asal Indonesia yang senang mengajak diskusi. Karena diskusi inilah, ide-ide penelitian bermunculan serta paper ilmiah karangan mereka bisa tajam karena diasah oleh kritik. Kawan diskusi lokal juga berguna buat makan-makan bareng dan nyanyi bareng. Tentu saja makan bareng mereka diselingi obrolan bermutu yang bisa mengisi jiwaku. Mereka juga membuatku untuk masih memiliki keinginan untuk lanjut doktoral.

***

Akhirnya kupilih tak lanjut studi doktoral. Aku ingin membuka mataku untuk dunia lain di luar dunia pendidikan. Aku juga terlalu lelah untuk studi lagi. Mentalku belum siap untuk penelitian mandiri. Apakah aku tidak suka dunia penelitian? Tidak! Saat ini, aku bekerja di bagian penelitian dan pengembangan pada perusahaan komponen kendaraan bermotor. Ternyata aku tidak jauh-jauh dari dunia penelitian. Beberapa rekan kerjaku di sini juga ada yang bergelar Doktor. Saat ini, aku tak sudi lanjut S3 tapi entah apa yang terjadi 5 tahun lagi.

Friday, December 30, 2011

Tentang studi di Jerman

Hari ini, aku menemukan satu blog menarik tentang studi di Jerman.

http://studijerman.wordpress.com/

Blog ini ditulis oleh Steve Tirtha, yang pernah studi di kota Darmstadt dan Furtwangen, Jerman. Blog post masih sedikit dan isinya sebagian besar mengenai biaya hidup di Jerman. Mungkin seiring waktu, blognya akan bertambah isinya.

***

Pengalamanku hidup dan studi di Bremen, Jerman, bisa di lihat di sini. Sedangkan di Nürnberg, Bayern, bisa dilihat di sini.

Thursday, December 22, 2011

Milis beasiswa

Ada suatu milis yang sangat membantuku dalam mencari beasiswa hingga mendapatkan beasiswa DAAD, yaitu milis beasiswa (http://groups.yahoo.com/group/beasiswa/). Dari sana kuperoleh informasi beasiswa di luar negeri, juga tips untuk membuat statement of purpose, test bahasa (TOEFL, IELTS, TestDAF, DSH, dll), test kemampuan (TPA, GMAT, GRE, dll), dll.

Saranku: Gabung milis ini!

Milis ini awalnya dibuat tahun 2000 oleh beberapa orang yang berhasil memperoleh beasiswa ke Amerika Serikat. Kemudian pengurus milis bertambah dengan orang-orang yang pernah mendapat beasiswa ke negara lain: Eropa, Jepang, Australia, dll.

Pada awal milis ini dibuat, jumlah anggota sedikit. Moderator ketat menerapkan aturan. Pertanyaan bodoh tidak akan lolos milis. Beberapa emailku tidak lolos milis. Seiring waktu, moderator lama berganti moderator baru dan peserta milis bertambah jadi ribuan orang. Pertanyaan bodoh bisa lolos milis. Milis jadi sering banjir pertanyaan. Bukan moderator yang menyaring pertanyaan bodoh sekarang melainkan pembaca. Beberapa pertanyaan bodoh kuhapus.

Pada awal milis ini dibuat, komputer masih berupa PC dan memiliki mobilitas rendah. Laptop masih mahal dan telpon genggam masih jadi barang mewah di kampusku di Bandung. Kini laptop dimiliki oleh banyak mahasiswa dan telpon genggam yang dimiliki kebanyakan mahasiswa/i sudah memiliki fasilitas internet. Rata-rata orang membeli smartphone di tahun ini. Di zaman awal milis, orang mengetik email dengan keyboard yang besar dan nyaman untuk menulis cukup panjang. Kini orang mengetik dengan smartphone yang tombolnya kecil dan tidak nyaman untuk menulis panjang. Budaya singkatan SMS dipindah ke email. Milis beasiswa jadi bisa berisi email pendek dengan bahasa SMS. Selain singkatan SMS, ada evolusi bahasa smartphone, yaitu bahasa alay. Ini lebih pusing lagi.

Zaman sudah berganti, milis ini masih memberikan informasimenarik mengenai beasiswa. Memang ada beberapa "noise", yaitu pertanyaan bodoh dan tulisan alay. Tapi selalu ada info berguna yang bisa kudapat. Jadi aku tetap mengikuti milis ini. Mungkin 5 tahun lagi, aku berminat melanjutkan studi doktoral dan milis ini masih berguna buatku.

 

 

Friday, December 16, 2011

[info] Tips memilih program master di Jerman

Ini ada tips memilih program master di Jerman (menurut orang Jerman)

1. Belajar bahasa Jerman
(supaya bisa baca tulisan di atas tanpa pakai Google Translate dan sejenisnya)

2. Lihat kampus
(maksudnya lihat website kampusnya, program apa saja yang ditawarkan)

3. Internationalitas
(Bagaimana international students dan international lecturer?)

4. Akreditasi
(Perguruan tinggi biasanya punya akreditasi, contohnya di USA ada ABET, kalau Jerman bisa coba mulai dari http://de.wikipedia.org/wiki/Akkreditierung_(Hochschulen) )

5. Ranking
(Beberapa sistem ranking menggunakan parameter yg berhubungan dengan produktivitas riset: jumlah paper, paten, H-index pengajar, dll.)

6. Proses melamar
(Dalam mengirim aplikasi, perhitungkan biayanya, contoh pos, internet, biaya ujian TOEFL, IELTS, GRE, GMAT, dll, kadang-kadang ada "uiversity entrance fee" )

7. Layanan konsultasi
(Di Jerman, ada istilah "Betreuung". Intinya berhubungan dengan layanan konsultasi. Bagaimana mahasiswa (dan calon mahasiswa) dilayani oleh pegawai administrasi maupun pengajar serta senior. Betreuung masuk perhitungan sistem ranking CHE di Jerman: http://ranking.zeit.de/che2011/en/)

8. Tingkat Gagal Studi
(Berapa persen mahasiswa yang drop out atau gagal studi juga perlu jadi bahan pertimbangan. Jurusan teknik di Jerman punya tingkat DO kira-kira 40-50%. Jurusan sosial sekitar 20%)

9. Jejaring
(Bagaimana jejaring alumninya. Ini punya hubungan dengan pekerjaan setelah lulus master)


Selamat mencari beasiswa!
Entah di Jerman maupun negara lain.
Darah Juang!


Condro


--
================================================================

Ignatius Sapto Condro A.B.

Social Network: LinkedIn | Facebook | Twitter | Plurk   
Mailing list: miliscab     


================================================================

Friday, March 19, 2010

KAAD Indonesia

Ternyata ada situs "sementara" KAAD Indonesia.
Silahkan lihat situs KAAD Indonesia.

Untuk situs KAAD Jerman bisa lihat di sini.

Dengan beasiswa KAAD, banyak orang yang bisa studi ke Jerman.

Saturday, February 6, 2010

Beasiswa untuk studi di Jerman, arsip Februari 2006


Seperti pesan saya yang lalu, cek ulang di Google atau Yahoo, alamat baru dari organisasi berikut. Selamat berjuang mencari beasiswa!

***

Otto Benecke-Stiftung e.V.
Kennedyallee 105-107
D – 53175 Bonn
Tel. 0049 – 228 – 81 630

Bayerisches Staatsministerium für Unterricht,
Kultus, Wissenschaft und Kunst
Salvatorstraße 2
D – 80333 München

Heinrich Böll-Stiftung e.V.
Rosenthaler Straße 40/41
D – 10178 Berlin

Gottlieb Daimler- und Karl Benz-Stiftung
Dr.-Carl Benz-Platz 2
D – 68526 Ladenburg
Tel. 0049 – 6203 – 15924
E-mail GD-KB-Stiftung@t-online.de

Deutsches Komitee der AIESEC e.V.
Subbelrather Straße 247
D – 50825 Köln
E-mail nc@de.aiesec.org

Carl Duisberg Gesellschaft e.V.
Postfach 260 120
D – 50514 Köln

Carl Duisberg Gesellschaft e.V.
Landesstelle Nordrhein-Westfalen
Wallstraße 30
D – 40213 Düsseldorf
Tel. 0049 – 221 – 8 689 160

Friedrich Ebert-Stiftung
Abteilung Studienförderung
Godesberger Allee 149
D – 53170 Bonn

Fulbright-Kommission
Theaterplatz 1 A
D – 53177 Bonn
Tel. 0228 – 935 690
E-mail fulkom@uni-bonn.de

Alexander von Humboldt-Stiftung
Jean Paul-Straße 12
D – 53173 Bonn
E-mail select@avh.de


Katholischer Akademischer Ausländer-Dienst
Hausdorffstraße 151
D – 53129 Bonn
Tel. 0049 – 228 – 917 580

Konrad Adenauer-Stiftung e.V.
Rathausallee 12
53757 Sankt Augustin
Tel. 02241 246 320

Alfried Krupp von Bohlen und Halbach-Stiftung
Hügel 15
D – 45133 Essen

Friedrich Naumann-Stiftung
Königswinterer Straße 409
D – 53639 Königswinter

Hanns Seidel-Stiftung
Förderungswerk
Lazarettstraße 33
D – 80636 München

Fritz Thyssen-Stiftung
Am Römerturm 3
D – 50667 Köln

Deutsches Nationalkomitee des Lutherischen Weltbundes
Referat Stipendien
Diemershaldenstraße 45
D – 70184 Stuttgart
Tel. 0049 – 711 – 2 159 362

Ökumenisches Studienwerk e.V.
Girondelle 80
D – 44799 Bochum
Tel. 0234 – 938 820

Studienstiftung des Abgeordnetenhauses von Berlin
Preußischer Landtag
10111 Berlin

Südosteuropa-Gesellschaft / SOG
Widenmayerstraße 49
D – 80538 München
Tel. 0049 – 89 – 2 121 540

Union der deutschen Akademien der Wissenschaften
Geschwister Scholl-Straße 2
D – 55131 Mainz
E-mail konfakad@mail.uni-mainz.de

Volkswagen-Stiftung
Kastanienallee 35
30519 Hannover
E-mail mail@volkswagen-stiftung.de

World University Service
Deutsches Komitee e.V.
Goebenstraße 35
D – 65195 Wiesbaden
Tel. 0049 – 611 – 446 648
E-mail WUSGERMANY@aol.com

Beasiswa untuk studi ke Jerman, arsip Januari 2004


Terdapat beberapa lembaga yang bisa memberikan beasiswa atau bantuan finansial untuk studi di Jerman. Info ini adanya Januari 2004. Organisasinya mungkin masih ada, tapi websitenya mungkin udah pindah alamat. Jadi silahkan Google sendiri.


***

AIESEC International
(Association Internationale des Etudiants
en Sciences Economiques et Commerciales)
Teilingerstraat 126
NL-3032 AW Rotterdam
Niederlande


Alexander von Humboldt-Stiftung
Jean-Paul-Straße 12
D - 53173 Bonn
Telefon 0049-228-833-0
Telefax 0049-228-833-212


Bayerisches Staatsministerium für Wissenschaft, Forschung und Kunst
Salvatorstraße 2
D - 80333 München


Boehringer Ingelheim Fonds
Stiftung für medizinische Grundlagenforschung
Schlossmühle
Grabenstr. 46
D-55262 Heidesheim
Telefon 0049-6132-8985-0
Telefax 0049-6132-8985-11


Carl Duisberg Gesellschaft e.V.
Postfach 26 01 20
D - 50514 Köln
Telefon 0049-221-2098-0
Telefax 0049-221-2098-111


Deutscher Famulantenaustausch DFA
German Exchange Office for Medical Clerkship
Godesberger Allee 54
D - 53175 Bonn
Telefon 0049-228-375340


Diakonisches Werk der EKD
-Stipendienreferat-
Stafflenbergstraße 76
Postfach 101142
D-70010 Stuttgart
Telefon 0049-711-2159-148


Friedrich-Ebert-Stiftung
Abteilung Studienförderung
Godesberger Allee 149
D - 53170 Bonn
Telefon 0049-228-883-0
Telex 885479 fest d
Telefax 0049-228-883-697


Friedrich-Naumann-Stiftung
Wissenschaftliche Dienste und Begabtenförderung
Alt-Nowawes 67
D-14482 Potsdam-Babelsberg
Telefon ++49-331-7019-349
Telefax ++49-331-7019-222
E-Mail fnst.bf@t...


Fritz Thyssen Stiftung
Am Römerturm 3
D - 50667 Köln
Telefon 0049-221-2575051
Telefax 0049-221-2575092


Fulbright-Kommission
Oranienburger Str. 13-14
D-10178 Berlin
Telefon 0049-30-284443-0
Telefax 0049-30-284443-42


Gottlieb Daimler- und Karl Benz-Stiftung
Dr.-Carl-Benz-Platz 2
D - 68526 Ladenburg
Telefon 0049-6203-10920
Telefax 0049-6203-10925



Hanns-Seidel-Stiftung
Förderungswerk
Lazarettstraße 33
Postfach 190846
D - 80636 München
Telefon 0049-89-1258-0
Telefax 0049-89-1258-403


Heinrich-Böll-Stiftung e.V.
Studienwerk
Rosenthalerstraße 40/41
D - 10178 Berlin
Telefon 0049-30-28534-400
Telefax 0049-30-28534-409
E-Mail info@b...


Katholischer Akademischer Ausländer-Dienst (KAAD)
Hausdorffstraße 151
D - 53129 Bonn
Telefon 0049-228-91758-0
Telefax 0049-228-91758-58
E-Mail zentrale@k...


Konrad-Adenauer-Stiftung e.V. (KAS)
Rathausallee 12
D - 53757 Sankt Augustin
Telefon 0049-2241-246-320


Deutsches Nationalkomitee des Lutherischen Weltbundes
-Stipendienreferat-
Diemershaldenstraße 45
D - 70184 Stuttgart
Telefon 0049-711-2159365
Telefax 0049-711-2159123


Dr. Mildred Scheel Stiftung für Krebsforschung
Thomas Mann-Straße 40
D - 53111 Bonn
Telefon 0049-228-72990-0
Telefax 0049-228-72990-11


MINERVA-Stipendien-Komitee
Max-Planck-Institut für Kernphysik
Postfach 103980
D - 69029 Heidelberg
Telefon 0049-6221-383211
Telefax 0049-6221-516606


Ministerium für Wissenschaft und Forschung
des Landes Nordrhein-Westfalen
Antragsadresse:
Carl Duisberg Gesellschaft e.V.
Landesstelle Nordrhein-Westfalen
Wallstraße 30
D - 40213 Düsseldorf
Telefon 0049-221-8689-160
Telefax 0049-221-8689-151


Otto Benecke-Stiftung e.V.
Kennedyallee 105-107
D - 53175 Bonn
Telefon 0049-228-8163-0
Telefax 0049-228-8163-400


Ökumenisches Studienwerk e.V.
Girondelle 80
D - 44799 Bochum
Telefon 0049-234-93882-0
Telefax 0049-234-93882-60


Pädagogischer Austauschdienst (PAD)
Sekretariat der Ständigen Konferenz
der Kultusminister der Länder
in der Bundesrepublik Deutschland
Lennéstraße 6
Postfach 2240
D - 53012 Bonn
Telefon 0049-228-501-0
Telefax 0049-228-501-301


Rußland-Fonds der deutschen Wirtschaft
Antragsadresse:
DAAD-Außenstelle Moskau


Stiftung Weimarer Klassik
Postfach 2012
D - 99401 Weimar
Telefon 0049-3643-545270
Telefax 0049-3643-545290


Studienstiftung
des Abgeordnetenhauses von Berlin
Preußischer Landtag
D - 10111 Berlin


Südosteuropa-Gesellschaft (SOG)
Widenmayerstraße 49
D - 80538 München
Telefon 0049-89-212154-0
Telefax 0049-89-2289469


Volkswagen Stiftung
Kastanienallee 35
D - 30519 Hannover
Telefon 0049-511-8381-0


World University Service (WUS)
Deutsches Komitee e.V.
Goebenstr. 35
D - 65195 Wiesbaden
Telefon 0611 - 446648
Telefax 0611 - 446489

Tuesday, January 27, 2009

Tips Mencari Beasiswa ke luar negeri

Tips Mencari Beasiswa ke luar negeri



1. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang (kata Aa Gym)


a. Saat mencari beasiswa, saya harus tahu saya maunya apa, dan mau studi apa dan di mana. Misalnya, saya sekarang mahasiswa Teknik Elektro. Saya mau studi tentang kontrol. Maka saya harus cari-cari info tentang ilmu kontrol ada di universitas mana dan negara mana. Setelah dapat infonya, cari-carilah info tentang beasiswa ke negara itu.

Pengalamanku dulu, aku kelamaan mendapat beasiswa, karena tidak tahu mauku apa. Tahun 2002, baru belajar bahasa Jerman. Selain itu, kaga tahu mau milih jurusan apa di Jerman.


b. Ketika saya sudah punya rencana ingin studi X di negara Y, maka dari sekarang, saya harus belajar bahasa negara Y. Juga belajar bahasa Inggris hingga TOEFL sekian-sekian (disarankan di atas 600 paper based, 250 computer based - CBT, 100 Internet Based - IBT).

Pengalamanku TOEFLku cuma 243 CBT. Sulit pergi ke Amerika dan Canada, jadi pilih Jerman aja.


c. Dari sekarang mulailah dulu dengan mengumpulkan nilai bagus untuk mata kuliah. Biasanya syarat IPK diperlukan.


d. Ikutilah organisasi dan ambil jabatan penting. Hal ini bertujuan untuk melatih kepercayaan diri, kemampuan komunikasi kita dengan orang lain, tanggung jawab terhadap tugas yang diemban, memperluas wawasan dan jaringan, serta mengisi CV.


e. Ikutilah kontes-kontes bermutu. Di CV akan tampak indah kalau kita melibatkan diri dalam lomba menulis, olimpiade matematika, kontes robot, dll. Kalau menang, lebih indah lagi.


f. Rajin menulis. Percayalah bahwa kemampuan menulis letter of purpose diperlukan oleh para pemburu beasiswa. Selain itu, beberapa beasiswa menuntut kita punya tulisan ilmiah.



2. Mata Elang, Kuping Anjing


Maksudnya, kita harus mencari-cari info tentang beasiswa dan peluang studi ke luar negeri. Biasanya didapat di


a. Koran

Baca koran, jangan cuma baca berita pemerkosaan aja, tapi juga baca peluang beasiswa dan peluang studi ke luar negeri.

Pengalamanku dulu, aku dapat info beasiswa dari perusahaan migas di Arun, Aceh dan beasiswa ke Singapura: ASEAN Scholarship dari koran KOMPAS.


b. World Wide Web (www)

Jaman sekarang Google dan Yahoo punya fasilitas mencari yang bagus. Tinggal gunakan kata kunci: scholarship, maka semua akan keluar. Yang penting kesabaran dan ketekunan dalam membaca saja.

Kalau mau ke Jerman, harus tahu kata kunci seperti DAAD, Stipendium, letter of motivation, Motivationsbrief, dll.


c. Milis beasiswa

Salah satu milis adalah beasiswa@ahoogroups.com. Milis ini cukup membantu pencari beasiswa. Bagi pencari beasiswa yang masih ingusan (maksudnya pemula), sebaiknya baca-baca dulu isi milis, gunakan fasilitas search message. Milis ini dimoderasi, jadi pengirim email, yang menanyakan hal-hal lugu dan culun serta mengirim email tidak pantas, tidak perlu dongkol atau marah kalau moderator tidak melanjutkan emailnya. Yang penting ikuti aturan main milis.

Pengalamanku dulu, tidak semua emailku tampil di milis ini. Dan tidak semua pertanyaanku dijawab di milis ini.


d. Bisik-bisik

Selain dari sumber di atas, kuping kita harus setajam kuping anjing. Kadang-kadang kita tidak berlangganan koran tertentu, juga tidak ikut milis, nah, cerita orang tentang beasiswa juga perlu ditanggapi. Kalau kita dengar ada beasiswa X, maka segeralah cari info di milis dan web.


e. Lembaga beasiswa

Lembaga beasiswa biasanya punya situs resmi di Internet, punya orang yang siap ditanyai (via email dan telepon). Lembaga ini juga punya otoritas untuk menjawab pertanyaan khusus. Misalnya,

- gimana kalau IPK saya kurang dikit,

- gimana kalau saya sulit dapat surat ini, boleh pakai surat yang lain kaga,

- gimana kalau TOEFL saya cuma segini,

- gimana kalau saya tiba-tiba hamil,

- dll


Lembaga yang bisa dikontak tentang beasiswa ke Amerika misalnya Ford Foundation, Aminef, IIEF, dll.

Lembaga yang bisa dikontak tentang beasiswa ke Jerman misalnya DAAD, KAAD, Goethe Institute, dll.


f. Perwakilan asing di Indonesia

Kedutaan Besar dan Konsulat dari negara lain juga punya info tentang studi ke luar negeri, beasiswa, hingga cara pengurusan visa. Pokoknya lengkap secara administrasi kenegaraan.



3. Hidup adalah perjuangan


a. Tantangan

Mencari beasiswa juga berarti kita harus berjuang untuk

- mendapatkan surat rekomendasi dosen

- belajar bahasa

- mendapat nilai bagus

- mengarang essay (letter of purpose/letter of motivation)

- bolak-balik kantor pos

- kontak sana-sini

- persiapan wawancara

- mengisi CV (maksudnya hal-hal yang menonjolkan kelebihan kita, bisa ditaruh di CV)

- menghadapi birokrasi

- dll


b. Hukum Pareto

Hukum Pareto adalah 80:20, yang artinya

- dari 10 lamaran beasiswa, yang dipanggil cuma 2, 8 langsung ditolak

- dari 10 wawancara beasiswa, yang diterima cuma 2, sedangkan 8 ditolak

Tapi tidak separah itu, kok.


Pengalamanku dulu, aku melamar 2 beasiswa untuk S1 selama kuliah ITB, hanya 1 yang diterima. Aku melamar 5 lamaran beasiswa ke luar negeri, hanya 1 diterima, sehingga aku bisa studi di Jerman sekarang.

Pengalaman temanku macam-macam. Ada teman yang hanya mengirim 1 lamaran beasiswa ke Jerman langsung diterima. Ada yang butuh 11 tahun mengirim sekitar 30 lamaran beasiswa, dan hanya 1 kali dapat, sehingga bisa studi di Jerman. Yah, hidup itu perjuangan.



4. Tonjolkan kelebihan, jelaskan kekurangan


a. Jika punya kelebihan, maka harus ditonjolkan saat kita menulis CV dan Letter of Purpose. Misalnya punya IPK tinggi, lulusan terbaik, pernah menang lomba, jadi ketua ini, jadi bendahara itu, dll.

b. Jika punya kelebihan, siapa tahu di wawancara beasiswa bisa disebut.

c. Jika punya kekurangan, kadang-kadang hal ini ditanyakan dalam wawancara beasiswa. Maka kita harus punya alasan rasional dan logis, serta dijawab dengan penuh rasa percaya diri.

Misalnya:

- kenapa ada nilai rendah untuk mata kuliah ini? Kita bisa jawab, waktu itu kita sakit, bekerja, dll sehingga tidak bisa konsentrasi saat ujian, lalu kita tidak boleh mengulang di semester berikutnya.

- kenapa kuliahnya lama? Kita bisa jawab, waktu itu saya bekerja sambil kuliah, dll.

- dll



5. Sediakan uang


Siapa bilang melamar beasiswa gratis?

Siapa bilang setelah dapat beasiswa kaga keluar uang?


Kamu perlu uang untuk


a. pos

mengirim surat lamaran lengkap dengan semua dokumen biasanya pakai pos.


b. TOEFL (dan GRE, GMAT, atau IELTS)

Untuk ikut test bahasa Inggris TOEFL atau Jerman Zertifikat Deutsch (ZD), butuh uang test. Kalau tak salah di atas 100 dollar untuk TOEFL. GRE dan GMAT lebih mahal daripada TOEFL.

Oh, ya, kursus bahasa supaya kemampuan bahasa meningkat juga pakai uang.


c. Internet

Karena internet di Indonesia lumayan mahal, kira-kira sejam pakai Internet bisa habis Rp 10.000,- dengan kecepatan lambat, sediakan uang cukup untuk cari informasi via Internet.


d. Visa

Mengurus visa itu di Jakarta. Kalau lembaga beasiswa yang bagus, biasanya kita cukup kirim paspor ke lembaga beasiswa, dan biarlah dia yang urus. Kalau tidak, wah, kita harus sedia uang untuk transportasi ke Jakarta.


e. Paspor

Mengurus paspor itu ada biayanya. Biaya resmi bisa dilihat di kantor imigrasi. Kalau resmi, waktu yang diperlukan membuat paspor adalah 2 minggu. Ingin pakai calo? Maka perlu ada tambahan biaya lagi, tapi paspor bisa jadi 2-3 hari. Ini paspor hijau.

Kalau paspor biru, atau paspor dinas, urusannya juga panjang. Perlu surat ini-itu. Aku tidak bisa komentar soal ini.


f. Fiskal

Lewat bandara artinya kita harus bayar fiskal kecuali kalau sebelumnya sudah mengurus pembebasan fiskal atau membuat paspor dinas yang warnanya biru. Fiskal jamanku masih Rp 1 juta.

Pengalamanku dengan Beasiswa

Pengalamanku dengan Beasiswa



Suatu hari di bulan Agustus 1998.


Aku mengantri di Gedung Serba Guna (GSG) ITB. Aku telah lulus UMPTN dan mendaftarkan diri di Jurusan Teknik Elektro ITB. Aku datang jam 10 siang, karena telat bangun. Lalu kena deh antrian panjang. Aku harus membulat-bulati formulir dengan pensil 2B. Dari nama, tanggal lahir, asal sekolah, hingga suku harus diisi. Sialnya ketika foto dicap, ada cap kena gambar muka yang hasilnya aku harus pakai Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang gambar mukanya kaga jelas selama 5 tahun. Aku dapat NIM 13298140, yang artinya

1, pendidikan Sarjana S1

3, Fakultas Teknologi Industri

2, Teknik Elektro

98, angkatan 1998

140, aku pendaftar urutan ke-140 untuk jurusan Teknik Elektro

Nah, setelah melalui meja 1 (ambil formulir), meja 2 (masukkan formulir terisi, foto dicap, plus syarat administratif), sampailah aku pada meja 3 (keuangan). Di meja ini aku ditagih uang pendaftaran, SPP-PRP (aku lupa singkatan apa), dll. Aku lalu memohon beasiswa dari ITB. Lalu orang tersebut menyuruhku ke meja lain. Aku menuruti kata-katanya, dan di sana seorang dosen memberi formulir yang harus kuisi. Aku isi form itu dan dia bilang tunggu surat. Kemudian aku melanjutkan ke meja-meja lain lalu selesailah acara pendaftaran dan aku bisa keluar GSG.

Beberapa hari kemudian, aku dapat surat yang menyuruhku pergi ke BAK (B Administrasi Akademik, waktu itu masuknya melalui Villa Merah). Aku dapat pembebasan SPP. Jamanku dulu uang kuliah di ITB:

SPP Rp 225.000,-

PRP Rp 225.000,-

Lain-lain Rp 22.500,- hingga Rp 25.000,-

Total Rp 475.000,-


Karena aku dapat semacam beasiswa (pembebasan SPP) dari ITB, maka selama 4 tahun aku hanya membayar Rp 250.000,-

Memohon beasiswa dari ITB pada jamanku itu relatif mudah, hanya bilang di meja penagihan uang saat pendaftaran masuk, "Saya memohon beasiswa". Lalu isi formulir, tunggu hasil.



Tahun 2001.


Aku sudah jadi mahasiswa ITB. Aku mengajukan lamaran beasiswa dari perusahaan migas di Aceh. Syarat transkrip, surat rekomendasi, dll, pokoknya lengkap, deh, kukirim. Ada 100 orang yang akan menerima beasiswa, aku termasuk 200 kandidat yang akan diseleksi dengan wawancara.

Saat itu, aku tidak merasa siap dengan wawancara. Mentalku lagi jatuh, karena patah hati, terlalu sibuk kerja praktek, dan terlalu sibuk dengan kegiatan organisasi. Surat panggilan wawancara juga kaga sampai, aku dapat info panggilan wawancara via telpon "Lusa wawancara". Selain itu, situasi politik Indonesia lagi panas. Gus Dur hendak dijatuhkan dan buruh di Bandung sedang ditekan serta banyak demo BBM. Kawan-kawanku bahkan dipukuli dan ditahan polisi. Pikiranku ruwet.

Hari wawancara tiba. Aku salah kostum. Yang lain pada pakai kemeja lengan panjang, celana panjang dari katun, dan sepatu resmi. Sedangkan aku pakai baju kaos berkerah warna hijau lumut, celana kargo warna hijau lumut, dan sepatu basket warna hitam dengan jendolan oranye. Tambah hancur, dengan tampangku yang kusut.

Hari itu, aku bertemu kandidat lain dari banyak universitas. Ada yang ketua BEM STT Telkom, ketua ini-itu, dll. Sedangkan aku ikut banyak organisasi tapi hanya sebagai penggembira, kecuali ada satu organisasi jadi Bendahara. Aku jadi agak-agak minder.

Aku diwawancara dua orang. Ketika duduk, aku menyenggol gelas lalu isinya tumpah mengenai si pewawancara. Lalu aku jadi grogi. Pertanyaan wawancara yang kuingat adalah apa yang akan kulakukan 5 tahun mendatang. Karena saat itu aku masih goblok, aku jawab tidak tahu. Lalu, aku lihat dia membulati nilai Sistem Kendaliku yang D pada transkrip, lalu bertanya tentang kuliah, nilai, dsb. Andai waktu itu, aku sudah ikut milis beasiswa@yahoogroups.com mungkin ceritanya beda.

Hasilnya kuketahui sebulan (atau 2 bulan?) kemudian. Aku tidak dapat beasiswa itu. Dari situ aku belajar banyak hal tentang wawancara:

1. siapkan diri untuk menghadapi pertanyaan tentang rencana ke depan (5, 10, 15 tahun), prestasi akademik, pengalaman organisasi, dll.

2. jangan salah kostum

3. jangan patah hati saat wawancara, karena efeknya mantap dalam menurunkan kepercayaan diri.

4. Jangan menumpahkan minuman pewawancara.



Akhir tahun 2002 dan awal tahun 2003.


Aku masih dalam masa patah hati. Saat itu, aku pusing dengan TA (Tugas Akhir) yang belum kelar. Aku mencoba untuk selesai TA, untuk sidang Januari dan wisuda Februari. Tapi aku mencoba mendaftar beasiswa DAAD Siemens 2003. Semua syarat kecuali bukti kelulusan dan bukti pendaftaran ke Uni di Jerman kukirim ke DAAD Jakarta.

Waktu itu, aku ingin juga bingung mau pilih jurusan apa di uni mana, karena banyak opsi. Minatku saat itu tertuju pada jurusan Mekatronika TUHH (di Hamburg) dan Automotive Engineering FH Eslingen.

Januari 2003, aku ditelpon Ibu Endah, DAAD Jakarta, dia minta syarat tanda lulus. Aku tidak bisa mengirimkannya karena belum lulus. Aku juga ternyata kaga bisa sidang Januari, malah stress sampai sesak napas, halusinasi, dll. Aku email Ibu Endah, dan bilang aku batal mengajukan lamaran beasiswa karena banyak syarat yang tidak bisa kuturuti.

Hasilnya, kawan-kawanku yang punya IPK 3,7 dan 3,8 pada dapat beasiswa DAAD Siemens. sedangkan aku tidak dapat beasiswa itu. Aku belajar lagi beberapa hal.

1. melamar beasiswa butuh persiapan dan perencanaan matang, jangan asal-asalan, nanti buang uang buat pos.

2. aku harus tahu apa yang kumau, maksudnya harus punya tujuan jelas mau jurusan apa dan di mana.

3. jangan patah hati saat melamar beasiswa, karena efeknya mantap dalam menurunkan percaya diri dan membuat orang kehilangan tujuan hidup.

4. jangan obral janji kepada pemberi beasiswa, bakal lulus bulan depan padahal belum tentu.



Akhir tahun 2003 dan awal tahun 2004.


Aku sudah tidak patah hati lagi, malah sedang jatuh cinta (fotonya bisa di lihat di friendsterku). Aku juga sudah lulus dari Teknik Elektro ITB menjadi Sarjana Teknik, spesialisasiku Kontrol. Aku juga sudah punya Zertifikat Deutsch, suatu sertifikat kemampuan berbahasa Jerman tingkat dasar. Aku pun berlangganan milis beasiswa. Persiapanku untuk melamar beasiswa lebih matang, namun masih kurang mantap.

Kali ini, aku mencoba beasiswa DAAD Siemens lagi, ditambah coba beasiswa ASEAN di NTU (Nanyang Technological University, Singapura). Tapi ada aja ketidaksiapanku, yaitu TOEFL (dan GRE).

Aku kaga pede dengan TOEFL. Aku latihan TOEFL. Aku coba ikut kursus GRE. Dapat beberapa pandangan tentang cara menulis yang baik. Tapi saat itu, aku lagi di persimpangan jalan, aku lagi bingung dengan tujuan hidup. Aku lagi keracunan MLM (multi level marketing). Aku bingung mau studi lanjut atau serius MLM. Jadinya waktu belajar buat TOEFL kurang. Aku juga telat ujian TOEFL.

Gara-gara TOEFL telat, maka formulir pendaftaran ke Uni juga kukirim kaga pas dengan tenggat waktu (deadline) beasiswa DAAD. Tidak telat bagi Uni di Jerman, tapi cukup telat buat DAAD.


Hasilnya?

Aku sukses masuk waiting list, kaga dapat beasiswa DAAD Siemens. Sialnya, lawan-lawan politikku di kampus pada dapat. Lalu beberapa bulan kemudian datang surat berturut-turut:

Dari TUHH (Hamburg), aku diterima di jurusan Telekomunikasi untuk Oktober 2004, kaga diterima di Mekatronika. Sebelumnya aku daftar 2 jurusan tersebut di sana.

Dari Uni Duisburg-Essen, aku diterima di jurusan Kontrol untuk Oktober 2004. Tahun sebelumnya, jurusan ini kaga masuk dalam tawaran beasiswa DAAD Siemens.

Dari Uni Bremen, aku diterima di jurusan Otomasi untuk April 2005. Tahun sebelumnya jurusan ini juga kaga masuk tawaran beasiswa DAAD Siemens.

Dari NTU Singapura, aku diterima di jurusan Kontrol, tapi kaga dapat beasiswa.

Gagal lagi deh dapat beasiswa. Tapi setidak-tidaknya aku sudah tahu tambah pede karena ternyata aku bisa juga diterima di perguruan tinggi di luar negeri. Aku belajar lagi beberapa hal:


1. aku harus tahu yang kumau.

Aku tahu bahwa aku punya mimpi studi lanjut di bidang kontrol. Namun aku masih belum tahu tujuan hidup jelas, mau jadi pedagang MLM atau tetap ikuti mimpiku studi lanjut.


2. jatuh cinta membuatku kreatif dan makin percaya diri


3. kepercayaan diriku tumbuh, saat sadar bahwa aku bisa diterima di Uni, walaupun gagal dapat beasiswa.



Akhir tahun 2005 dan awal tahun 2006.


Aku bukan mahasiswa lagi, aku jadi dosen di Unika Soegijapranata Semarang. Mimpiku untuk studi di luar negeri tetap membara. Kali ini, masalahnya bukan dari diri sendiri (seperti tidak percaya diri), tapi dari luar. Kesibukan kerja, sistem kerja, dan rekan-rekan kerja kadang-kadang melakukan sesuatu hal yang menghambat orang untuk maju.

Berkat dukungan Bapakku dan kawannya yang tinggal di Jerman, semangatku tumbuh. Kawan bapakku jauh-jauh dari Neuwied, Jerman menelponku untuk menyemangatiku serta memberi tips-tips via email cara menulis statement of purpose yang benar.

Aku lalu mencoba beasiswa DAAD dan KAAD. Aku tidak peduli dengan tantangan dan hambatan. Selain itu, aku juga dapat kiriman surat dari Uni Bremen bahwa aku tetap diterima untuk April 2006 di jurusan Otomatisasi.

Untuk beasiswa DAAD, aku harus mengirim dokumen ke DAAD Jakarta dan DIKTI. Untuk beasiswa KAAD, aku harus mengirim email dulu ke KAAD Bonn dan KAAD Jakarta, lalu menunggu balasan berupa formulir.

Aku dipanggil wawancara untuk beasiswa DAAD sekitar Februari 2006. Aku ditanya oleh seorang profesor dari Jerman tentang topik TA milikku dulu. Sial, aku kaga bawa dokumen tentang TA ini. Oh, ya, topiknya tentang identifikasi sistem menggunakan Jaringan Saraf tiruan Recurrent. Untung aku ingat rumusnya sedikit, walau agak-agak salah dikit. Aku gugup sekali.

Aku juga ditanya oleh Dr. Terry Mart dari UI tentang karya ilmiahku selama jadi dosen, juga tentang penulisan dosen pembimbing dalam paper. Aku jawab sekenanya aja. Pertanyaan orang Indonesia memang lebih rumit.

Aku ditanya oleh seorang pegawai DAAD dari Jerman, persiapanku apa aja, darimana tahu jurusan Otomatisasi Uni Bremen, dan apakah aku tahu Bremen. Aku cuma bilang aku tahu via Internet. Tentang kota Bremen, yang kudapat cuma peta bus kota dan Strassenbahn hasil download. Jadi kujawab segitu aja.

Aku ditanya oleh seorang dosen dari Universitas Andalas, mengapa pilih jurusan Otomatisasi, bukankah Indonesia lebih butuh sistem padat karya. Dasar orang Indonesia, ngasih pertanyaan sulit. Aku bilang aja, pabrik-pabrik di semarang, banyak yang pakai sistem otomatisasi.

Aku keluar dari ruangan dengan lemas. Lalu naik busway, sistem transportasi yang kusuka dari Jakarta. Mabuk busway. Kembalilah aku ke Semarang dengan kereta malam. Aku berpikir kayanya kaga bakal dapat beasiswa.


Suatu hari, di kala hujan lebat, aku berada di Perpus Unika Soegijapranata, membaca-baca jurnal IEEE sambil bertapa, siapa tahu dapat ide buat penelitian. HP Nokia 5110 tiba-tiba berbunyi. Suara Ibu Fatmawati dari DAAD Jakarta terdengar. Dia bertanya apakah aku mau menerima beasiswa DAAD. Aku jawab, "Maaauuuuuu.....". Mana mungkin kutolak.

Perjuangan berikutnya adalah berhadapan dengan birokrasi dunia kerja dan beberapa rekan kerja usil yang agak menghambat urusanku dengan birokrasi. Kesibukan kerja karena lagi akreditasi juga membuat masalah lebih rumit. Aku juga perlu mengurus visa, pindahan, beres-beres, dan beli Laptop serta cari tempat tinggal di Bremen. Aku hanya sempat berpisah dengan Bapak-Ibuku sekitar 4 hari, dan setengah hari dengan kekasih tercinta. Kaga pakailah syukuran perpisahan, Unika memang tidak memberiku napas.

Tapi yang jelas aku bisa sampai Jerman, Senin, 3 April 2006. Kaga tahu kalau kereta api di Jerman cuma berhenti 2 menit, bukan 30 menit kaya Indonesia. Bisa ketemu sore-sore, Sekretaris Master Office, lalu dapat daftar "things I have to do". Dapat tempat tinggal di Bremen, dalam 3 hari. Kalau bisa bahasa Jerman, gampang dapat tempat tinggal dan semua orang menjadi ramah. Laptopku yang kubeli dari Indonesia cuma bertahan setengah tahun. Terpaksa beli Laptop baru di Jerman. Banyak pengalaman baru di Jerman.



statistik beasiswaku


Formulir beasiswa yang kuisi ada 7, yang sukses dapat beasiswa cuma 2.

Pertama kali mengirim beasiswa buat ke Jerman, Oktober 2002, bisa diterima di Jerman, April 2006. Penantian lama juga.

Akhirnya aku belajar banyak

1. kepercayaan diri penting buat melamar beasiswa, karena pancarannya dibutuhkan dalam wawancara

2. seseorang harus fokus dengan tujuan hidupnya

3. Tuhan memberi sesuatu pada waktu yang tepat.

4. Ternyata aku dapat jurusan yang cocok dengan latar belakang S1, jadinya the right man on the right place.

5. dorongan semangat dari luar kubutuhkan untuk melewati tantangan dan hambatan

6. kesabaran dan ketekunan, diperlukan untuk menantikan kemenangan perjuangan memperoleh beasiswa

7. kegagalan hanyalah umpan balik negatif. Setiap umpan balik negatif memiliki tujuan mencapai hasil yang stabil sesuai keinginan atau tujuan. Ini kupelajari dari sistem kontrol.

8. Perbaikilah selalu diri kita, supaya semakin matang dan tahu tips dan trik berjuang untuk beasiswa.

9. Ikut milis beasiswa



Yah, gitu deh.

Salam Perjuangan!

Blog ini dibuat untuk sedikit menggambarkan bagaimana cara berjuang untuk beasiswa, terutama ke luar negeri.

Blog ini bakal berisi
- pengalamanku berjuang untuk bisa studi
- pengalamanku memperjuangkan beasiswa
- gambaran mengenai Statement of Purpose, Recommendation Letter.
- dll yang berhubungan

Karena ini cuma salam pembukaan, sebaiknya tulisan tidak panjang.
Sebagian tulisan berbahasa Indonesia dan sebagian berbahasa Inggris dan Jerman.

Untuk para pejuang beasiswa,
Salam Perjuangan!