Tuesday, January 27, 2009

Tips Mencari Beasiswa ke luar negeri

Tips Mencari Beasiswa ke luar negeri



1. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang (kata Aa Gym)


a. Saat mencari beasiswa, saya harus tahu saya maunya apa, dan mau studi apa dan di mana. Misalnya, saya sekarang mahasiswa Teknik Elektro. Saya mau studi tentang kontrol. Maka saya harus cari-cari info tentang ilmu kontrol ada di universitas mana dan negara mana. Setelah dapat infonya, cari-carilah info tentang beasiswa ke negara itu.

Pengalamanku dulu, aku kelamaan mendapat beasiswa, karena tidak tahu mauku apa. Tahun 2002, baru belajar bahasa Jerman. Selain itu, kaga tahu mau milih jurusan apa di Jerman.


b. Ketika saya sudah punya rencana ingin studi X di negara Y, maka dari sekarang, saya harus belajar bahasa negara Y. Juga belajar bahasa Inggris hingga TOEFL sekian-sekian (disarankan di atas 600 paper based, 250 computer based - CBT, 100 Internet Based - IBT).

Pengalamanku TOEFLku cuma 243 CBT. Sulit pergi ke Amerika dan Canada, jadi pilih Jerman aja.


c. Dari sekarang mulailah dulu dengan mengumpulkan nilai bagus untuk mata kuliah. Biasanya syarat IPK diperlukan.


d. Ikutilah organisasi dan ambil jabatan penting. Hal ini bertujuan untuk melatih kepercayaan diri, kemampuan komunikasi kita dengan orang lain, tanggung jawab terhadap tugas yang diemban, memperluas wawasan dan jaringan, serta mengisi CV.


e. Ikutilah kontes-kontes bermutu. Di CV akan tampak indah kalau kita melibatkan diri dalam lomba menulis, olimpiade matematika, kontes robot, dll. Kalau menang, lebih indah lagi.


f. Rajin menulis. Percayalah bahwa kemampuan menulis letter of purpose diperlukan oleh para pemburu beasiswa. Selain itu, beberapa beasiswa menuntut kita punya tulisan ilmiah.



2. Mata Elang, Kuping Anjing


Maksudnya, kita harus mencari-cari info tentang beasiswa dan peluang studi ke luar negeri. Biasanya didapat di


a. Koran

Baca koran, jangan cuma baca berita pemerkosaan aja, tapi juga baca peluang beasiswa dan peluang studi ke luar negeri.

Pengalamanku dulu, aku dapat info beasiswa dari perusahaan migas di Arun, Aceh dan beasiswa ke Singapura: ASEAN Scholarship dari koran KOMPAS.


b. World Wide Web (www)

Jaman sekarang Google dan Yahoo punya fasilitas mencari yang bagus. Tinggal gunakan kata kunci: scholarship, maka semua akan keluar. Yang penting kesabaran dan ketekunan dalam membaca saja.

Kalau mau ke Jerman, harus tahu kata kunci seperti DAAD, Stipendium, letter of motivation, Motivationsbrief, dll.


c. Milis beasiswa

Salah satu milis adalah beasiswa@ahoogroups.com. Milis ini cukup membantu pencari beasiswa. Bagi pencari beasiswa yang masih ingusan (maksudnya pemula), sebaiknya baca-baca dulu isi milis, gunakan fasilitas search message. Milis ini dimoderasi, jadi pengirim email, yang menanyakan hal-hal lugu dan culun serta mengirim email tidak pantas, tidak perlu dongkol atau marah kalau moderator tidak melanjutkan emailnya. Yang penting ikuti aturan main milis.

Pengalamanku dulu, tidak semua emailku tampil di milis ini. Dan tidak semua pertanyaanku dijawab di milis ini.


d. Bisik-bisik

Selain dari sumber di atas, kuping kita harus setajam kuping anjing. Kadang-kadang kita tidak berlangganan koran tertentu, juga tidak ikut milis, nah, cerita orang tentang beasiswa juga perlu ditanggapi. Kalau kita dengar ada beasiswa X, maka segeralah cari info di milis dan web.


e. Lembaga beasiswa

Lembaga beasiswa biasanya punya situs resmi di Internet, punya orang yang siap ditanyai (via email dan telepon). Lembaga ini juga punya otoritas untuk menjawab pertanyaan khusus. Misalnya,

- gimana kalau IPK saya kurang dikit,

- gimana kalau saya sulit dapat surat ini, boleh pakai surat yang lain kaga,

- gimana kalau TOEFL saya cuma segini,

- gimana kalau saya tiba-tiba hamil,

- dll


Lembaga yang bisa dikontak tentang beasiswa ke Amerika misalnya Ford Foundation, Aminef, IIEF, dll.

Lembaga yang bisa dikontak tentang beasiswa ke Jerman misalnya DAAD, KAAD, Goethe Institute, dll.


f. Perwakilan asing di Indonesia

Kedutaan Besar dan Konsulat dari negara lain juga punya info tentang studi ke luar negeri, beasiswa, hingga cara pengurusan visa. Pokoknya lengkap secara administrasi kenegaraan.



3. Hidup adalah perjuangan


a. Tantangan

Mencari beasiswa juga berarti kita harus berjuang untuk

- mendapatkan surat rekomendasi dosen

- belajar bahasa

- mendapat nilai bagus

- mengarang essay (letter of purpose/letter of motivation)

- bolak-balik kantor pos

- kontak sana-sini

- persiapan wawancara

- mengisi CV (maksudnya hal-hal yang menonjolkan kelebihan kita, bisa ditaruh di CV)

- menghadapi birokrasi

- dll


b. Hukum Pareto

Hukum Pareto adalah 80:20, yang artinya

- dari 10 lamaran beasiswa, yang dipanggil cuma 2, 8 langsung ditolak

- dari 10 wawancara beasiswa, yang diterima cuma 2, sedangkan 8 ditolak

Tapi tidak separah itu, kok.


Pengalamanku dulu, aku melamar 2 beasiswa untuk S1 selama kuliah ITB, hanya 1 yang diterima. Aku melamar 5 lamaran beasiswa ke luar negeri, hanya 1 diterima, sehingga aku bisa studi di Jerman sekarang.

Pengalaman temanku macam-macam. Ada teman yang hanya mengirim 1 lamaran beasiswa ke Jerman langsung diterima. Ada yang butuh 11 tahun mengirim sekitar 30 lamaran beasiswa, dan hanya 1 kali dapat, sehingga bisa studi di Jerman. Yah, hidup itu perjuangan.



4. Tonjolkan kelebihan, jelaskan kekurangan


a. Jika punya kelebihan, maka harus ditonjolkan saat kita menulis CV dan Letter of Purpose. Misalnya punya IPK tinggi, lulusan terbaik, pernah menang lomba, jadi ketua ini, jadi bendahara itu, dll.

b. Jika punya kelebihan, siapa tahu di wawancara beasiswa bisa disebut.

c. Jika punya kekurangan, kadang-kadang hal ini ditanyakan dalam wawancara beasiswa. Maka kita harus punya alasan rasional dan logis, serta dijawab dengan penuh rasa percaya diri.

Misalnya:

- kenapa ada nilai rendah untuk mata kuliah ini? Kita bisa jawab, waktu itu kita sakit, bekerja, dll sehingga tidak bisa konsentrasi saat ujian, lalu kita tidak boleh mengulang di semester berikutnya.

- kenapa kuliahnya lama? Kita bisa jawab, waktu itu saya bekerja sambil kuliah, dll.

- dll



5. Sediakan uang


Siapa bilang melamar beasiswa gratis?

Siapa bilang setelah dapat beasiswa kaga keluar uang?


Kamu perlu uang untuk


a. pos

mengirim surat lamaran lengkap dengan semua dokumen biasanya pakai pos.


b. TOEFL (dan GRE, GMAT, atau IELTS)

Untuk ikut test bahasa Inggris TOEFL atau Jerman Zertifikat Deutsch (ZD), butuh uang test. Kalau tak salah di atas 100 dollar untuk TOEFL. GRE dan GMAT lebih mahal daripada TOEFL.

Oh, ya, kursus bahasa supaya kemampuan bahasa meningkat juga pakai uang.


c. Internet

Karena internet di Indonesia lumayan mahal, kira-kira sejam pakai Internet bisa habis Rp 10.000,- dengan kecepatan lambat, sediakan uang cukup untuk cari informasi via Internet.


d. Visa

Mengurus visa itu di Jakarta. Kalau lembaga beasiswa yang bagus, biasanya kita cukup kirim paspor ke lembaga beasiswa, dan biarlah dia yang urus. Kalau tidak, wah, kita harus sedia uang untuk transportasi ke Jakarta.


e. Paspor

Mengurus paspor itu ada biayanya. Biaya resmi bisa dilihat di kantor imigrasi. Kalau resmi, waktu yang diperlukan membuat paspor adalah 2 minggu. Ingin pakai calo? Maka perlu ada tambahan biaya lagi, tapi paspor bisa jadi 2-3 hari. Ini paspor hijau.

Kalau paspor biru, atau paspor dinas, urusannya juga panjang. Perlu surat ini-itu. Aku tidak bisa komentar soal ini.


f. Fiskal

Lewat bandara artinya kita harus bayar fiskal kecuali kalau sebelumnya sudah mengurus pembebasan fiskal atau membuat paspor dinas yang warnanya biru. Fiskal jamanku masih Rp 1 juta.

9 comments:

  1. wah...
    sharingnya menarik..
    perkenalkan, Saya Rani, ngajar juga, di Unika Widaya Mandala Surabaya.
    saya lagi hunting beasiswa s3 di Jerman ni, mas Ignas.
    punya info tentang universitas di Jerman yang punya fakultas psikologi industri dan organisasi gak ?
    pusing saya cari via internet :(
    saya juga lagi search tentang DAAD dan KAAD.
    tapi kan lebih afdol kalo dapet info dari alumni sana..
    termasuk sharing perjuangan nembus beasiswanya (keren)

    thanx u b4
    salam

    ReplyDelete
  2. Semoga Dara bisa sukses sampai di Jerman. Uni Bremen juga punya jurusan psikologi.

    ReplyDelete
  3. Wow.. Lengkap sekali..
    Terima kasih banyak.

    Saya Ochi, sekarang saya masih kelas XI SMA, saya pingin lulus SMA nanti, saya kuliah di luar negeri.
    Saya cari-cari info scholarship overseas, rata-rata untuk undergraduate..

    Kalo baru saja lulus SMA tidak bisa ya cari beasiswa untuk kuliah S1 di luar negeri?
    Kalau bisa, keywordnya apa ya?
    Terimakasih banyak sebelumnya :)

    ReplyDelete
  4. Hallo Ochi,
    Jepang dan Singapura membuka peluang untuk beasiswa S1.
    Singapura biasanya NUS dan NTU. National University of Singapore atau Nanyang Technological University.
    Jepang mungkin bisa Ochi coba Monbukagakusho Scholarship.

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih baik cari beasiswa dulu atau belajar bahasa negara yang mau dituju dulu ? nuwun

      Delete
    2. Kalau beasiswanya tidak memberi syarat kemampuan bahasa tertentu, belajar bahasanya bisa barengan, tidak perlu saling mendahului.

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Halo kak Ignatius.. nama sy nada.. sy masih kelas 9 smp (msh kecil ^-^").. sy pingin nanya nih k, kan nnt klo udh lulus sma sy pengen banget bs dpet beasiswa ke luar negeri.. sy pingin nanya k, klo di Inggris universitas apa yah k yg ada beasiswanya yg bs nerima jurusan psikologi?? sekian k :) Thx

    ReplyDelete